Sudahkah
kau tahu dimana waktu yang tepat untuk kau untai sebersit doa tentang dia yang
seharusnya kau doakan. Dia yang
seharusnya menjadi semogamu dalam sebait doa yang tiada henti-hentinya kau
panjatkan selepas salam disetiap ibadahmu. Namun, pada suatu saat kau sadari
bahwa dia yang sebanar-benarnya kau semogakan harus kau gantikan namanya. Dia
yang dahulu kau semogakan harus kau eliminasi dari tiap bait doa yang kau
panjatkan untuk segera dikabulkan. Karena kau tahu, dia yang kau semogakan
adalah sosok yang tidak mungkin kau raba.
Bukan
perkara mudah ketika kau benar-benar mencintai sesorang dengan hati yang tulus.
Seseorang yang kau nanti-nantikan kadatangannya lagi dan lagi. Seseorang yang
kau nantikan sapaannya lagi. Seseorang yang telah lama pergi meninggalkan
kenangan yang kau gunakan untuk memenjarai hatimu. Hidupmu benar-benar dalam
pusaran cinta yang menjerat, sedihnya semua itu diciptakan oleh dirimu, dengan
hasratmu sendiri. Hingga tak kau sadari, hasrat itu semakin membesar, menjulang
dan menggunung hingga kau benar-benar terbelenggu pada sosok yang tidak pernah
memulai kata KITA sekalipun diantara kalian.
Setelah
terfikir memang benar kata sang Maha Segalanya bahwa mencintai sesuatu dengan
sangat bukan perkara yang baik. Mencintai sesuatu yang cintanya menyaingi
cintamu pada Nya bukan perkara baik. Sehingga, sesuatu yang menjauhkan rasa
cintamu pada-Nya memang seharusnya dihilangkan tanpa ada bekas. Jika bukan
rasamu yang hilang, maka sosok tersebut yang menghilang. Pergi dengan
meninggalkan kenangan yang kau gunakan sebagai umpan untuk memenjarakan dirimu,
memenjarakan hatimu.
Lama
sudah waktu kau habiskan dalam penantian yang tidak berujung. Entah bisa
dikatakan sebuah penantian atau sebuah kebodohan yang diaminkan sebagai sebuah
kesetiaan. Toh, sosok itupun tidak pernah lagi kembali sekedar menyapamu lewat
pesan WhatsApp. Sosok itu, sudah
benar-benar lupa akan dirimu sedang kamu tidak. Ada seorang sahabat pernah
bilang jika kamu ingin melupakan sesorang setidaknya ada sosok yang mampu kamu
gunakan sebagai partnermu dalam melupakannya.
Mungkin sudah terlalu capek dan merana, sehingga hari itu benar-benar kau harus merelakannya. Bukan hanya merelakan dirinya tapi juga merelakan kenangan masa lalu antara kau dan dirinya yang sudah tersusun sejak masa kanak-kanak. Melupakan kenangannya tentu saja sulit karena kau tumbuh, berkembang bersamanya. Bermain, berteman, menjadi lawan terkadang menjadi tempat sandaran terkadang menjadi tempat pelarian. Dahulu dia menjelma menjadi sosok yang serba ada dan serba bisa sebelum dia meninggalkanmu setelah menciptakan berjuta kenangan yang indah.
Mungkin sudah terlalu capek dan merana, sehingga hari itu benar-benar kau harus merelakannya. Bukan hanya merelakan dirinya tapi juga merelakan kenangan masa lalu antara kau dan dirinya yang sudah tersusun sejak masa kanak-kanak. Melupakan kenangannya tentu saja sulit karena kau tumbuh, berkembang bersamanya. Bermain, berteman, menjadi lawan terkadang menjadi tempat sandaran terkadang menjadi tempat pelarian. Dahulu dia menjelma menjadi sosok yang serba ada dan serba bisa sebelum dia meninggalkanmu setelah menciptakan berjuta kenangan yang indah.
Dalam lamunan disebuah stasiun kereta yang
ramai dengan suara kereta yang lalu lalang kau putuskan untuk benar-benar
melupakannya.
Komentar
Posting Komentar