Langsung ke konten utama

(1) Melupakannya



            Sudahkah kau tahu dimana waktu yang tepat untuk kau untai sebersit doa tentang dia yang seharusnya kau doakan.  Dia yang seharusnya menjadi semogamu dalam sebait doa yang tiada henti-hentinya kau panjatkan selepas salam disetiap ibadahmu. Namun, pada suatu saat kau sadari bahwa dia yang sebanar-benarnya kau semogakan harus kau gantikan namanya. Dia yang dahulu kau semogakan harus kau eliminasi dari tiap bait doa yang kau panjatkan untuk segera dikabulkan. Karena kau tahu, dia yang kau semogakan adalah sosok yang tidak mungkin kau raba.
            Bukan perkara mudah ketika kau benar-benar mencintai sesorang dengan hati yang tulus. Seseorang yang kau nanti-nantikan kadatangannya lagi dan lagi. Seseorang yang kau nantikan sapaannya lagi. Seseorang yang telah lama pergi meninggalkan kenangan yang kau gunakan untuk memenjarai hatimu. Hidupmu benar-benar dalam pusaran cinta yang menjerat, sedihnya semua itu diciptakan oleh dirimu, dengan hasratmu sendiri. Hingga tak kau sadari, hasrat itu semakin membesar, menjulang dan menggunung hingga kau benar-benar terbelenggu pada sosok yang tidak pernah memulai kata KITA sekalipun diantara kalian.
            Setelah terfikir memang benar kata sang Maha Segalanya bahwa mencintai sesuatu dengan sangat bukan perkara yang baik. Mencintai sesuatu yang cintanya menyaingi cintamu pada Nya bukan perkara baik. Sehingga, sesuatu yang menjauhkan rasa cintamu pada-Nya memang seharusnya dihilangkan tanpa ada bekas. Jika bukan rasamu yang hilang, maka sosok tersebut yang menghilang. Pergi dengan meninggalkan kenangan yang kau gunakan sebagai umpan untuk memenjarakan dirimu, memenjarakan hatimu.
            Lama sudah waktu kau habiskan dalam penantian yang tidak berujung. Entah bisa dikatakan sebuah penantian atau sebuah kebodohan yang diaminkan sebagai sebuah kesetiaan. Toh, sosok itupun tidak pernah lagi kembali sekedar menyapamu lewat pesan WhatsApp. Sosok itu, sudah benar-benar lupa akan dirimu sedang kamu tidak. Ada seorang sahabat pernah bilang jika kamu ingin melupakan sesorang setidaknya ada sosok yang mampu kamu gunakan sebagai partnermu dalam melupakannya.
            Mungkin sudah terlalu capek dan merana, sehingga hari itu benar-benar kau harus merelakannya. Bukan hanya merelakan dirinya tapi juga merelakan kenangan masa lalu antara kau dan dirinya yang sudah tersusun sejak masa kanak-kanak. Melupakan kenangannya tentu saja sulit karena kau tumbuh, berkembang bersamanya. Bermain, berteman, menjadi lawan terkadang menjadi tempat sandaran terkadang menjadi tempat pelarian. Dahulu dia menjelma menjadi sosok yang serba ada dan serba bisa sebelum dia meninggalkanmu setelah menciptakan berjuta kenangan yang indah.
 Dalam lamunan disebuah stasiun kereta yang ramai dengan suara kereta yang lalu lalang kau putuskan untuk benar-benar melupakannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Perasaan-Bagian 1

            Sejatinya manusia, kita hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Sejatinya manusia… Saya juga tidak terbiasa dengan yang namanya kehilangan Kehilangan sosok paling berharga dalam hidup saya di waktu berdekatan bukan perkara yang mudah   Sejatinya manusia… Saya terkadang lupa bahwa kami hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Selayaknya manusia… Saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan bukan sebagai alat memohon iba dan memelas kasih tetapi hanya sebagai sebuah jalan untuk tetap kuat menjalani hidup   Selayaknya manusia... Saya berharap semoga tulisan tentang kehilangan ini menjadi penyembuh untuk saya dan juga menjadi peluakan bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan Semoga segala yang terkesan hilang kembali dalam bentuk lain dengan sebaik-baiknya…     Cerita ini akan diisi dengan banyak ketidaksempurnaan, dibuat apa adanya, dan m...

(4) Hujan di awal Desember

Manusia itu banyak jumlahnya , manusia juga unik macamnya . Kita yang bernamakan manusia punya banyak rupa, banyak tingkah, banyak rasa dan banyak yang lainnya. Pantas saja banyak perbedaan yang timbul antar satu kesatuan insan yang ada di semesta ini. Salah satu hal yang lumrah ditemukan dan paling digemari adalah tentang hujan. Untuk persoalan satu inipun manusia pasti punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang membenci hujan, karenanya dia lari bersembunyi dalam ruang sempit dan gelap sebab lumrahnya hujan disert ai dengan petir. Adapula yang semakin terpupuk rindunya ketika bulir-bulir air langit itu menyentuh tanah Bumi, biasanya karena dia terpisah dari sang mpunya hati jauh ber kilo-kilometer, atau lama bertahun sudah tiada sua. Ada juga yang menikmati salah satu mahakarya Tuhan yang konon diatur turunnya oleh sosok yang bernamakan Mikail. Maha karya ini diterima dengan suka cita dan gembira. Sudah banyak bukan berbagai persepsi yang timbul hanya perihal hujan bukan ?...

(6) Bagian 2 – Mulailah

Setelah sah menjadi anak rantau yang harus kamu lakukan adalah memulai segalanya. Iya, tentu saja! Dari mulai sadar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas dirimu di tanah rantau. Juga bertanggungjawab atas nama keluargamu di tanah rantau. Tidak bermaksud menakuti, tapi ini adalah kenyatannya. Menjadi perantau harus memulai segala sesuatu. Mulai mencari tempat tinggal. Mulai menyiapkan makanan sendiri. Mula mencuci baju sendiri. Mulai menyetrika baju sendiri. Mulai mendisiplinkan diri sendiri. Harus mulai mandiri. Jangan malas. Jangan manja. Kamu harus kuat, buktikan kepada keduanya bahwa mereka tidak salah mengirimkan dirimu hingga sejauh ini, untuk masa yang cukup lama. Mulailah mandiri dan disiplin. Kita tidak bisa hidup bergantung terhadap orang lain. Masing-masing dari mereka pun punya kepentingan. Ingat, jangan sampa menyusahkan orang lain. Setelah selesai dengan diri sendiri. Mulailah bangun hubungan dengan orang lain. Jadilah pribadi yang santun dan tidak sombong. In...