Manusia
itu banyak jumlahnya,
manusia juga unik macamnya.
Kita yang bernamakan manusia punya banyak rupa, banyak tingkah, banyak rasa dan
banyak yang lainnya. Pantas saja
banyak perbedaan yang timbul antar satu kesatuan insan yang ada di semesta ini. Salah
satu hal yang lumrah ditemukan dan paling digemari adalah tentang hujan. Untuk
persoalan satu inipun manusia pasti punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang
membenci hujan, karenanya dia lari bersembunyi dalam ruang sempit dan gelap sebab lumrahnya hujan disertai
dengan petir. Adapula yang semakin terpupuk rindunya ketika bulir-bulir air
langit itu menyentuh tanah Bumi, biasanya karena dia terpisah dari sang mpunya
hati jauh ber kilo-kilometer, atau lama bertahun sudah tiada sua. Ada juga yang
menikmati salah satu mahakarya Tuhan yang konon diatur turunnya oleh sosok yang
bernamakan Mikail. Maha karya ini diterima dengan suka cita dan gembira.
Sudah banyak bukan berbagai persepsi yang timbul hanya
perihal hujan bukan ? Sehingga mengenai hujan bukanlah hal yang patut dianggap remeh.
Dalam menikamatinya pun banyak jalan yang
dipilih. Banyak tempat yang
ditunjuk sebagai ruang pengikat nikmat antara kau dan hujan. Tiada lupa kita harus sadari bahwasannya setiap insan
punya
caranya berbeda seperti apa yang
kita mafhumkan sehingga tiada yang salah ketika caramu menikmati hujan berbeda
dengan caraku, caraku berbeda dengan cara mereka. Jangan mau terus menerus menyeragamkan toh tiada hal
yang patut disegaragamkan selain baju seragam sekolah bukan ? Hehe
Cara
menikmati hujan yang lumrah dilakukan
oleh manusia
normal kebanyakan adalah dengan
meneguk secangkir kopi hangat dengan teman nastar yang gurih, atau pisang goreng yang baru saja menikmati hangatnya
wajan rumahan didapur ibunda. Atau semangkuk mi instant dengan
telur setengah matang ditambah beberapa irisan cabai merah yang tentu menambah
kenikmatan padanya. Atau mungkin
segelintir manusia merelakan badannya kuyup sambil menari riang membiarkan
bulir air langit membasahi setiap lekuk dirinya, seluruh kulit badannya.
Entahlah, manusia
banyak macam, banyak tingkah. Anggaplah biasa.
Lantas, daku yang tidak seperti manusia kebanyakan
berperilaku berbeda pastilah tentu. Kali ini, kupilih satu kotak ice cream
coklat dicampur dengan rasa kacang serta tiramisu yang meleleh menjadi satu.
Ah, sebuah padu padan yang indah seindah suasana yang sedang terjadi antara
kamu dan aku yang selanjutnya ku sebut sebagai kita. Kali ini, sengaja kupilih kotak yang cukup besar untuk bisa
kunikmati bersama dengannya. Sengaja memang, aku ingin menikmati paket lengkap
di malam-malam awal Desember ini. Aku ingin menikmati ice cream yang nikmat,
dibawah rintikan hujan bersama dia yang dengan setia menungguku.
Dia menemaniku menunggu hujan reda. Dia yang dengan setia mendengar celoteh manjaku. Dia yang dengan setia mendengarkan tanpa mengabaikan setiap pilihan diksi yang keluar dari mulutku, tentu dengan cara yang selalu sama dan selalu berbeda dengan manusia kebanyakan. Disuatu waktu saat kami sedang membersamai masuklah sebuah sautan panggilan dari seberang jauh disana. Dengan ini tak lantas diacuh tetaplah dia menemani ku sampai selesailah percakapanmu dengan seseorang diseberang sana lewat alat bantu telepon genggam. Dia terdiam tidak merasa terabaikan. Hah, jadilah engkau bintang dihapanku ketika itu juga. Pertahananku mulai melemah.
Dia menemaniku menunggu hujan reda. Dia yang dengan setia mendengar celoteh manjaku. Dia yang dengan setia mendengarkan tanpa mengabaikan setiap pilihan diksi yang keluar dari mulutku, tentu dengan cara yang selalu sama dan selalu berbeda dengan manusia kebanyakan. Disuatu waktu saat kami sedang membersamai masuklah sebuah sautan panggilan dari seberang jauh disana. Dengan ini tak lantas diacuh tetaplah dia menemani ku sampai selesailah percakapanmu dengan seseorang diseberang sana lewat alat bantu telepon genggam. Dia terdiam tidak merasa terabaikan. Hah, jadilah engkau bintang dihapanku ketika itu juga. Pertahananku mulai melemah.
Dengan
ini maka aku tidak keheranan kenapa jagat mempertemukan manusia beruntung di kota ini . Kota yang syahdu, sendu dan yang sedang terguyur hujan di awal bulan Desember. Beruntung betul memang dua insan ini. Saling mengasihi
tanpa pamrih, saling menasehati ketika keliru, saling memberikan semangat
ketika sedang jatuh, saling memupuk mimpi yang sama, bersama. Hujan
diawal Desember selalu syahdu, selaku merdu, selalu romantis, selalu bisa
mengisaratka setiap suasana yang ada. Kita berdua duduk berdampingan di satu
bangku dalam satu warna pada satu
malam yang sendu.
Lama-lama aku tersadar aku terpikat pada kedingan yang
ternyata menghangatkanku. Aku menyukai dinginnya ice cream ini, aku menyukai rinai
hujan yang memberikan nuansa dingin nan syahdu, serta aku menyukai kamu,
sosok dingin yang mampu mengahangatkanku. Terimakasih.

Komentar
Posting Komentar