Setelah
sah menjadi anak rantau yang harus kamu lakukan adalah memulai segalanya. Iya,
tentu saja! Dari mulai sadar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas dirimu di
tanah rantau. Juga bertanggungjawab atas nama keluargamu di tanah rantau. Tidak
bermaksud menakuti, tapi ini adalah kenyatannya.
Menjadi
perantau harus memulai segala sesuatu. Mulai mencari tempat tinggal. Mulai
menyiapkan makanan sendiri. Mula mencuci baju sendiri. Mulai menyetrika baju
sendiri. Mulai mendisiplinkan diri sendiri. Harus mulai mandiri. Jangan malas.
Jangan manja. Kamu harus kuat, buktikan kepada keduanya bahwa mereka tidak
salah mengirimkan dirimu hingga sejauh ini, untuk masa yang cukup lama. Mulailah
mandiri dan disiplin. Kita tidak bisa hidup bergantung terhadap orang lain.
Masing-masing dari mereka pun punya kepentingan. Ingat, jangan sampa
menyusahkan orang lain.
Setelah
selesai dengan diri sendiri. Mulailah bangun hubungan dengan orang lain.
Jadilah pribadi yang santun dan tidak sombong. Ingat, di tanah rantau teman
adalah harta yang paling berharga. Jadi, carilah teman yang baik dan
baik-baiklah dengan semua temanmu. Tapi, yang perlu diingat adalah jangan
sampai merepotkan ya. Pahami kondisi bahwa kalian sama-sama perantau.
Mulailah
hubungan baik entah itu di kampus atau di kosan. Atau, ditempat-tempat lain
yang bisa kalian gunakan sebagai ajang pencarian teman. Atau ajang pencarian
jodoh sekalian pun tidak masalah. Tapi, harus diingat kisah cinta yang kalian
bangun ketika masa perantauan harus penuh dengan kesiapan sejak awal. Kalian
harus sama-sama sadar bahwa suatu ketika kalian tidak akan selalu dekat.
Tapi,
tidak masalah kok. Mulailah dulu. Rasakanlah dulu sensasinya. Kata orang
mengalir saja. Jangan ambil pusing berlebih soal yang nanti-nanti. Lakulanlah
yang dapat dilakukan saat ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di
kehidupan mendatang. Jadi, jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan ya. Itu
bukan urusanmu. Itu diluar kendalimu.
Tugas
perantau hanya berdoa dan berusaha. Do’a adalah senjata utama para perantau. Do’a
adalah garda terdepan pertahanan hidup seorang perantau. Dan, jangan pelit juga
dalam membagikan do’a kepada orang tua, keluarga atau teman-teman.
Hal
yang harus mulai dibangun oleh para perantau adalah rumah diperantauan. Jangan
takut dan malu dalam membangun rumah ya. Karena, rumah bukan semata bangunan
tempat tinggal kok. Ada nilai yang jauh lebih mengikat dari pada itu. Sebuah
tempat berteduh, sebuah tempat nyaman bahkan sebuat tempat pulang.
Komentar
Posting Komentar