Langsung ke konten utama

(6) Bagian 2 – Mulailah



Setelah sah menjadi anak rantau yang harus kamu lakukan adalah memulai segalanya. Iya, tentu saja! Dari mulai sadar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas dirimu di tanah rantau. Juga bertanggungjawab atas nama keluargamu di tanah rantau. Tidak bermaksud menakuti, tapi ini adalah kenyatannya.

Menjadi perantau harus memulai segala sesuatu. Mulai mencari tempat tinggal. Mulai menyiapkan makanan sendiri. Mula mencuci baju sendiri. Mulai menyetrika baju sendiri. Mulai mendisiplinkan diri sendiri. Harus mulai mandiri. Jangan malas. Jangan manja. Kamu harus kuat, buktikan kepada keduanya bahwa mereka tidak salah mengirimkan dirimu hingga sejauh ini, untuk masa yang cukup lama. Mulailah mandiri dan disiplin. Kita tidak bisa hidup bergantung terhadap orang lain. Masing-masing dari mereka pun punya kepentingan. Ingat, jangan sampa menyusahkan orang lain.

Setelah selesai dengan diri sendiri. Mulailah bangun hubungan dengan orang lain. Jadilah pribadi yang santun dan tidak sombong. Ingat, di tanah rantau teman adalah harta yang paling berharga. Jadi, carilah teman yang baik dan baik-baiklah dengan semua temanmu. Tapi, yang perlu diingat adalah jangan sampai merepotkan ya. Pahami kondisi bahwa kalian sama-sama perantau.

Mulailah hubungan baik entah itu di kampus atau di kosan. Atau, ditempat-tempat lain yang bisa kalian gunakan sebagai ajang pencarian teman. Atau ajang pencarian jodoh sekalian pun tidak masalah. Tapi, harus diingat kisah cinta yang kalian bangun ketika masa perantauan harus penuh dengan kesiapan sejak awal. Kalian harus sama-sama sadar bahwa suatu ketika kalian tidak akan selalu dekat.

Tapi, tidak masalah kok. Mulailah dulu. Rasakanlah dulu sensasinya. Kata orang mengalir saja. Jangan ambil pusing berlebih soal yang nanti-nanti. Lakulanlah yang dapat dilakukan saat ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kehidupan mendatang. Jadi, jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan ya. Itu bukan urusanmu. Itu diluar kendalimu.

Tugas perantau hanya berdoa dan berusaha. Do’a adalah senjata utama para perantau. Do’a adalah garda terdepan pertahanan hidup seorang perantau. Dan, jangan pelit juga dalam membagikan do’a kepada orang tua, keluarga atau teman-teman.

Hal yang harus mulai dibangun oleh para perantau adalah rumah diperantauan. Jangan takut dan malu dalam membangun rumah ya. Karena, rumah bukan semata bangunan tempat tinggal kok. Ada nilai yang jauh lebih mengikat dari pada itu. Sebuah tempat berteduh, sebuah tempat nyaman bahkan sebuat tempat pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Perasaan-Bagian 1

            Sejatinya manusia, kita hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Sejatinya manusia… Saya juga tidak terbiasa dengan yang namanya kehilangan Kehilangan sosok paling berharga dalam hidup saya di waktu berdekatan bukan perkara yang mudah   Sejatinya manusia… Saya terkadang lupa bahwa kami hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Selayaknya manusia… Saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan bukan sebagai alat memohon iba dan memelas kasih tetapi hanya sebagai sebuah jalan untuk tetap kuat menjalani hidup   Selayaknya manusia... Saya berharap semoga tulisan tentang kehilangan ini menjadi penyembuh untuk saya dan juga menjadi peluakan bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan Semoga segala yang terkesan hilang kembali dalam bentuk lain dengan sebaik-baiknya…     Cerita ini akan diisi dengan banyak ketidaksempurnaan, dibuat apa adanya, dan m...

(4) Hujan di awal Desember

Manusia itu banyak jumlahnya , manusia juga unik macamnya . Kita yang bernamakan manusia punya banyak rupa, banyak tingkah, banyak rasa dan banyak yang lainnya. Pantas saja banyak perbedaan yang timbul antar satu kesatuan insan yang ada di semesta ini. Salah satu hal yang lumrah ditemukan dan paling digemari adalah tentang hujan. Untuk persoalan satu inipun manusia pasti punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang membenci hujan, karenanya dia lari bersembunyi dalam ruang sempit dan gelap sebab lumrahnya hujan disert ai dengan petir. Adapula yang semakin terpupuk rindunya ketika bulir-bulir air langit itu menyentuh tanah Bumi, biasanya karena dia terpisah dari sang mpunya hati jauh ber kilo-kilometer, atau lama bertahun sudah tiada sua. Ada juga yang menikmati salah satu mahakarya Tuhan yang konon diatur turunnya oleh sosok yang bernamakan Mikail. Maha karya ini diterima dengan suka cita dan gembira. Sudah banyak bukan berbagai persepsi yang timbul hanya perihal hujan bukan ?...