Langsung ke konten utama

Tentang Perasaan-Bagian 1

 

 

 

 

 


 

Sejatinya manusia,

kita hanya saling dititipi bukan saling memiliki




 

Sejatinya manusia…

Saya juga tidak terbiasa dengan yang namanya kehilangan

Kehilangan sosok paling berharga dalam hidup saya di waktu berdekatan bukan perkara yang mudah

 

Sejatinya manusia…

Saya terkadang lupa bahwa kami hanya saling dititipi bukan saling memiliki

 

Selayaknya manusia…

Saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan

bukan sebagai alat memohon iba dan memelas kasih tetapi hanya sebagai sebuah jalan untuk tetap kuat menjalani hidup

 

Selayaknya manusia...

Saya berharap semoga tulisan tentang kehilangan ini menjadi penyembuh untuk saya dan juga menjadi peluakan bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan

Semoga segala yang terkesan hilang kembali dalam bentuk lain dengan sebaik-baiknya…

 


 

Cerita ini akan diisi dengan banyak ketidaksempurnaan, dibuat apa adanya, dan menjadi jalan penyembuhan.

Sebagaimana itu seharusnya...

banyak kejadian yang akan dikisahkan,

kadang ceritanya tidak mematuhi alur, kadang berpindah waktu, dan kadang terkesan sulit dimengerti.

Apapun itu saya terlampau jujur dalam menceritakan perasaan ini.

 

Selayaknya kehidupan, kehilangan pasti turut hadir dalam momen bahagia. Kali ini rasa kehilangan itu datang di saat saya tengah menjalani peran sebagai seorang istri. Meski sudah menjadi seorang istri sepertinya saat itu di persimpangan perasaanku masih ada rasa belum berani untuk menjadi seorang ibu. Perasaan itu ternyata mendekatkanku pada sebuah hal baru yang terlambat ku sadari tapi harus segera ku lepas pergi.

Desember 2023, selepas solat magrib saya memberanikan diri untuk melakukan tes kehamilan.

Iya...

Saya paham...

jangan dikomentari kalau waktu terbaik adalah di pagi hari.

Kali ini biarkan saya bercerita saja, tolong.

 

Setelah ditunggu beberapa saat ternyata saya positif hamil.

Perasaan bahagia tergambar dari raut suami saya, saya juga bahagia tapi masih ada perasaan

 ’’sudah siapkah saya menjadi orang tua?’’ di hati saya. Tentu hal ini saya sampaikan kepada orang tua kami masing-masing. Doa dan harapan baik pasti dipanjatkan.

Hanya saja...

Anak ini sepertinya membaca keraguan saya akan diri sendiri, meski terlihat baik-baik saja jujur kehamilan pertama membuat saya cemas, banyak berpikir hal-hal yang belum terjadi. Padahal saya punya suami yang baik dan keluarga yang rukun. Saat menulis catatan perasaan ini saya baru tersadar kalau saya mungkin belum selesai dengan diri saya sendiri?

Atau saya belum benar-benar siap di mata sang pemberi titipan?

Anak ini meski tidak seberapa lamanya dia berada di rahim saya, dia telah menyatu dengan saya dalam waktu hampir 12 minggu. Mungkin terlihat singkat tetapi 12 minggu itu terdiri dari 84 hari.

Hampir 100 hari ternyata kami saling mengenal, bahkan seharusnya isi hati saya terbaca oleh dia bukan?

Ternyata dia pergi dengan cara baik-baik, dia memberikan tanda, keluar perlahan, dan memberikan saya kekuatan untuk sampai di rumah sakit. Baik sekali anak ini...

Seperti waktu saat dia datang, dia pun pergi di saat yang sama. Waktu selepas magrib.

Saya ternyata harus merelakan anak yang singgah 84 hari di rahim saya pergi dengan pasti. Terlihat singkat tapi anak ini tersimpan abadi di hati saya. Proses kuretase dilaksanakan sehari setelah saya bermalam di Rumah Sakit, 22 Januari 2024 dipenuhi hujan lebat sore itu, saya harus berpisah dengan dia. Proses kuretase dengan bius total membuat saya tertidur lama.

 Ada ruang-ruang putih yang saya lihat saat itu dalam kondisi tidak sadarkan diri, ada seorang anak laki-laki bergamis putih dan berkopia putih. Matanya seperti mata saya, mata belo dengan bola mata cokelat rambutnya ikal berwarna hitam, kulitnya putih dan penuh senyuman. Entah ini karena perasaan seorang ibu atau pengaruh obat bius hanya Tuhan yang tahu kebenarannya.

Setelah sadar badan saya masih terasa kaku dan saya terus menangis...

Tangisan saya pecah dalam pelukan suami yang terus mendampingi

Ada perasaan kehilangan tetapi bentuknya tidak pernah saya rasakan. Ada perasaan hampa bersarang di hati, marah dengan diri sendiri, dan kehilangan. Apakah 84 hari sudah bisa menciptakan perasaan ini?

Setelah tenang dalam pelukan suami, saya akhirnya mencoba menceritakan yang saya alami. Entah hanya ingin menenangkan hati istri atau sebuah bentuk penerimaan dan penghambaan dia menerima semua cerita saya dengan sebaik-baiknya penerimaan. Beliau kemudian menyampaikan nama dari anak 84 hari kami, Said Al Fauzi. Selayaknya doa, nama ini berarti anak kami pergi dalam keadaan yang baik dan beruntung.

Lalu...

Apakah proses kehilangan berakhir saat pulang ke rumah?

Tentu tidak…

Selayaknya manusia…

Ada hari-hari saat bisa menerima semua ketetapan, ada masa meyakini ini semua yang terbaik, dan ada juga situasi yang penuh dengan kesedihan dan perasaan bersalah karena tidak mampu menjaga Said dengan baik.

Masih sering bertanya…

”Said pergi apa karena tidak suka ya dengan Modhi?”. Modhi adalah singkatan dari Mommy Dhila, sebuah nama panggilan yang saya siapkan untuk digunakan anak-anak saya ketika memanggil saya.

Said pergi apa ada kata-kata di hati saya yang terdengar olehnya?

Said pergi apa karena keegoisan saya?

Pertanyaan seperti ini tidak pernah terucap...

Bukan tidak pernah...hanya pernah terucap di depan suami saya saja.

Kepergian Said adalah bukti bahwa semua yang terlihat seperti milik saya hanya titipan.

Said juga hanya titipan bagi saya.

Lalu, kalau yang memiliki mengambil kembali barang yang dititipi buat apa saya harus merasa kehilangan?

Akhirnya proses menerima kepergian Said oleh saya sampai pada tangga itu…

Ternyata kepergian Said Adalah rencana Allah yang terbaik

Selayaknya Namanya, Said pergi untuk memberikan kesempatan kepada Modhi agar mampu memaksimalkan perannya sebagai anak Perempuan pertama.

Said seharusnya lahir pada Agustus 2024 tetapi Said memilih untuk tidak melakukan perjalanan itu.

Said memberikan tiket perjalanan ini untuk Modhi kembali ke rumah, menjemput Bai dan Nenek Said di Alor. Said mengajarkan Modhi apa itu bentuk bakti kepada orang tua. Said Terima kasih atas kesempatannya nak. Said akan selalu jadi anak pertama Modhi. Modhi selalu yakin bahwa pertemuan-pertemuan kita yang tidak mungkin dilakukan di dunia yang ini dapat kita lakukan di dunia-dunia yang lain. Di mana pun dunia Said sekarang, percayalah bahwa doa Modhi akan selalu memeluk Said dalam sedih maupun senang, dalam sehat maupun sakit.

Said...

Terima kasih ya nak untuk segala kehangatannya, perasaan kehilangannya, dan pelajarannya. Said adalah salah satu hal yang membuat Modhi terus belajar dan semakin yakin dengan takdir Allah.

Kepergian Said memang menyedihkan, Modhi harap Said bisa ya selalu sayang Modhi…

Modhi harap bisa ketemu Said lagi

Modhi harap bisa ketemu adik-adik Said yang akan tinggal di dunia yang ini bersama Modhi...

Tolong doakan Modhi juga ya sayang...

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(4) Hujan di awal Desember

Manusia itu banyak jumlahnya , manusia juga unik macamnya . Kita yang bernamakan manusia punya banyak rupa, banyak tingkah, banyak rasa dan banyak yang lainnya. Pantas saja banyak perbedaan yang timbul antar satu kesatuan insan yang ada di semesta ini. Salah satu hal yang lumrah ditemukan dan paling digemari adalah tentang hujan. Untuk persoalan satu inipun manusia pasti punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang membenci hujan, karenanya dia lari bersembunyi dalam ruang sempit dan gelap sebab lumrahnya hujan disert ai dengan petir. Adapula yang semakin terpupuk rindunya ketika bulir-bulir air langit itu menyentuh tanah Bumi, biasanya karena dia terpisah dari sang mpunya hati jauh ber kilo-kilometer, atau lama bertahun sudah tiada sua. Ada juga yang menikmati salah satu mahakarya Tuhan yang konon diatur turunnya oleh sosok yang bernamakan Mikail. Maha karya ini diterima dengan suka cita dan gembira. Sudah banyak bukan berbagai persepsi yang timbul hanya perihal hujan bukan ?...

(6) Bagian 2 – Mulailah

Setelah sah menjadi anak rantau yang harus kamu lakukan adalah memulai segalanya. Iya, tentu saja! Dari mulai sadar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas dirimu di tanah rantau. Juga bertanggungjawab atas nama keluargamu di tanah rantau. Tidak bermaksud menakuti, tapi ini adalah kenyatannya. Menjadi perantau harus memulai segala sesuatu. Mulai mencari tempat tinggal. Mulai menyiapkan makanan sendiri. Mula mencuci baju sendiri. Mulai menyetrika baju sendiri. Mulai mendisiplinkan diri sendiri. Harus mulai mandiri. Jangan malas. Jangan manja. Kamu harus kuat, buktikan kepada keduanya bahwa mereka tidak salah mengirimkan dirimu hingga sejauh ini, untuk masa yang cukup lama. Mulailah mandiri dan disiplin. Kita tidak bisa hidup bergantung terhadap orang lain. Masing-masing dari mereka pun punya kepentingan. Ingat, jangan sampa menyusahkan orang lain. Setelah selesai dengan diri sendiri. Mulailah bangun hubungan dengan orang lain. Jadilah pribadi yang santun dan tidak sombong. In...