Sejatinya manusia,
kita hanya saling dititipi bukan saling memiliki
Sejatinya manusia…
Saya
juga tidak terbiasa dengan yang namanya kehilangan
Kehilangan
sosok paling berharga dalam hidup saya di waktu berdekatan bukan perkara yang
mudah
Sejatinya manusia…
Saya
terkadang lupa bahwa kami hanya saling dititipi bukan saling memiliki
Selayaknya manusia…
Saya
mencoba menuliskan apa yang saya rasakan
bukan
sebagai alat memohon iba dan memelas kasih tetapi hanya sebagai sebuah jalan
untuk tetap kuat menjalani hidup
Selayaknya manusia...
Saya
berharap semoga tulisan tentang kehilangan ini menjadi penyembuh untuk saya dan
juga menjadi peluakan bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan
Semoga
segala yang terkesan hilang kembali dalam bentuk lain dengan sebaik-baiknya…
Cerita
ini akan diisi dengan banyak ketidaksempurnaan, dibuat apa adanya, dan menjadi
jalan penyembuhan.
Sebagaimana
itu seharusnya...
banyak
kejadian yang akan dikisahkan,
kadang
ceritanya tidak mematuhi alur, kadang berpindah waktu, dan kadang terkesan
sulit dimengerti.
Apapun itu saya terlampau jujur dalam menceritakan perasaan ini.
Selayaknya
kehidupan, kehilangan pasti turut hadir dalam momen bahagia. Kali ini rasa
kehilangan itu datang di saat saya tengah menjalani peran sebagai seorang
istri. Meski sudah menjadi seorang istri sepertinya saat itu di persimpangan
perasaanku masih ada rasa belum berani untuk menjadi seorang ibu. Perasaan itu
ternyata mendekatkanku pada sebuah hal baru yang terlambat ku sadari tapi harus
segera ku lepas pergi.
Desember
2023, selepas solat magrib saya memberanikan diri untuk melakukan tes
kehamilan.
Iya...
Saya paham...
jangan
dikomentari kalau waktu terbaik adalah di pagi hari.
Kali
ini biarkan saya bercerita saja, tolong.
Setelah
ditunggu beberapa saat ternyata saya positif hamil.
Perasaan
bahagia tergambar dari raut suami saya, saya juga bahagia tapi masih ada
perasaan
’’sudah siapkah saya menjadi orang tua?’’ di
hati saya. Tentu hal ini saya sampaikan kepada orang tua kami masing-masing.
Doa dan harapan baik pasti dipanjatkan.
Hanya
saja...
Anak
ini sepertinya membaca keraguan saya akan diri sendiri, meski terlihat
baik-baik saja jujur kehamilan pertama membuat saya cemas, banyak berpikir
hal-hal yang belum terjadi. Padahal saya punya suami yang baik dan keluarga
yang rukun. Saat menulis catatan perasaan ini saya baru tersadar kalau saya
mungkin belum selesai dengan diri saya sendiri?
Atau saya belum benar-benar siap di mata sang pemberi titipan?
Anak
ini meski tidak seberapa lamanya dia berada di rahim saya, dia telah menyatu
dengan saya dalam waktu hampir 12 minggu. Mungkin terlihat singkat tetapi 12
minggu itu terdiri dari 84 hari.
Hampir
100 hari ternyata kami saling mengenal, bahkan seharusnya isi hati saya terbaca
oleh dia bukan?
Ternyata
dia pergi dengan cara baik-baik, dia memberikan tanda, keluar perlahan, dan
memberikan saya kekuatan untuk sampai di rumah sakit. Baik sekali anak ini...
Seperti
waktu saat dia datang, dia pun pergi di saat yang sama. Waktu selepas magrib.
Saya
ternyata harus merelakan anak yang singgah 84 hari di rahim saya pergi dengan
pasti. Terlihat singkat tapi anak ini tersimpan abadi di hati saya. Proses
kuretase dilaksanakan sehari setelah saya bermalam di Rumah Sakit, 22 Januari
2024 dipenuhi hujan lebat sore itu, saya harus berpisah dengan dia. Proses
kuretase dengan bius total membuat saya tertidur lama.
Ada ruang-ruang putih yang saya lihat saat itu
dalam kondisi tidak sadarkan diri, ada seorang anak laki-laki bergamis putih
dan berkopia putih. Matanya seperti mata saya, mata belo dengan bola mata
cokelat rambutnya ikal berwarna hitam, kulitnya putih dan penuh senyuman. Entah
ini karena perasaan seorang ibu atau pengaruh obat bius hanya Tuhan yang tahu
kebenarannya.
Setelah
sadar badan saya masih terasa kaku dan saya terus menangis...
Tangisan
saya pecah dalam pelukan suami yang terus mendampingi
Ada
perasaan kehilangan tetapi bentuknya tidak pernah saya rasakan. Ada perasaan
hampa bersarang di hati, marah dengan diri sendiri, dan kehilangan. Apakah 84
hari sudah bisa menciptakan perasaan ini?
Setelah
tenang dalam pelukan suami, saya akhirnya mencoba menceritakan yang saya alami.
Entah hanya ingin menenangkan hati istri atau sebuah bentuk penerimaan dan
penghambaan dia menerima semua cerita saya dengan sebaik-baiknya penerimaan.
Beliau kemudian menyampaikan nama dari anak 84 hari kami, Said Al Fauzi.
Selayaknya doa, nama ini berarti anak kami pergi dalam keadaan yang baik dan
beruntung.
Lalu...
Apakah
proses kehilangan berakhir saat pulang ke rumah?
Tentu
tidak…
Selayaknya manusia…
Ada
hari-hari saat bisa menerima semua ketetapan, ada masa meyakini ini semua yang
terbaik, dan ada juga situasi yang penuh dengan kesedihan dan perasaan bersalah
karena tidak mampu menjaga Said dengan baik.
Masih
sering bertanya…
”Said
pergi apa karena tidak suka ya dengan Modhi?”. Modhi adalah singkatan dari
Mommy Dhila, sebuah nama panggilan yang saya siapkan untuk digunakan anak-anak
saya ketika memanggil saya.
Said
pergi apa ada kata-kata di hati saya yang terdengar olehnya?
Said
pergi apa karena keegoisan saya?
Pertanyaan
seperti ini tidak pernah terucap...
Bukan
tidak pernah...hanya pernah terucap di depan suami saya saja.
Kepergian
Said adalah bukti bahwa semua yang terlihat seperti milik saya hanya titipan.
Said
juga hanya titipan bagi saya.
Lalu,
kalau yang memiliki mengambil kembali barang yang dititipi buat apa saya harus
merasa kehilangan?
Akhirnya
proses menerima kepergian Said oleh saya sampai pada tangga itu…
Ternyata
kepergian Said Adalah rencana Allah yang terbaik
Selayaknya
Namanya, Said pergi untuk memberikan kesempatan kepada Modhi agar mampu
memaksimalkan perannya sebagai anak Perempuan pertama.
Said
seharusnya lahir pada Agustus 2024 tetapi Said memilih untuk tidak melakukan
perjalanan itu.
Said
memberikan tiket perjalanan ini untuk Modhi kembali ke rumah, menjemput Bai dan
Nenek Said di Alor. Said mengajarkan Modhi apa itu bentuk bakti kepada orang
tua. Said Terima kasih atas kesempatannya nak. Said akan selalu jadi anak
pertama Modhi. Modhi selalu yakin bahwa pertemuan-pertemuan kita yang tidak
mungkin dilakukan di dunia yang ini dapat kita lakukan di dunia-dunia yang
lain. Di mana pun dunia Said sekarang, percayalah bahwa doa Modhi akan selalu
memeluk Said dalam sedih maupun senang, dalam sehat maupun sakit.
Said...
Terima
kasih ya nak untuk segala kehangatannya, perasaan kehilangannya, dan
pelajarannya. Said adalah salah satu hal yang membuat Modhi terus belajar dan
semakin yakin dengan takdir Allah.
Kepergian
Said memang menyedihkan, Modhi harap Said bisa ya selalu sayang Modhi…
Modhi
harap bisa ketemu Said lagi
Modhi
harap bisa ketemu adik-adik Said yang akan tinggal di dunia yang ini bersama
Modhi...
Tolong
doakan Modhi juga ya sayang...
Komentar
Posting Komentar