Langsung ke konten utama

(2) Proses



            Akhirnya, tibalah hari dimana kau kembali menjadi sosok yang baru. Kau hebat kata itu kau sampaikan pada dirimu sendiri karena hatimu yang merajai logikamu selama beberapa masa berhasil ditaklukan oleh logika yang kembali bangkit pasca tidur panjang. Langkah pertama dari kebangkitan logikamu adalah benar-benar mengosongkan semua jeratan tajam atas belenggu yang kau ciptakan dengan kenangan dan mungkin juga angan-angan semu yang kesemuanya kau ciptakan sendiri. Kau harus lalui itu agar tersterilkan hatimu dari virus masa lalu. Mensterilakan hati adalah langkah yang pasti susah, tergopoh-gopoh, pontang-panting, jatuh kemudian bangkit, tersungkur kemudian menangis, gelisah kemudian bersedih tapi ingat semua demi kebaikanmu, semua demi kebahagianmu, semua demi masa depanmu. Jika kau memaksakan dirimu terjerat dalam bayang masa lalu maka jadilah kau makhluk yang merugi tiada berdedikasi atas dirimu sendiri. Lama sudah masa yang dipakai untuk mensterilkan hati akhirnya teciptalah sebuah kestabilan hati dan emosi yang lebih baik dibandingkan sebelum-sebelumnya.
Keseimbangan itu kemudian kau jadikan awal untuk terus menata, kembali memupuk kebersihan dan kejernihan hati serta logikamu yang hampir saja karam seperti kapal diujung teluk. Keseimbangan itu berhasil terus seperti itu, monoton adanya. Kau hanya bersama dirimu dan dirimu. Kau ciptakan zona nyaman yang sukai atas dirimu sehingga jika tidak gerak cepat zona ini akan menyulitkanmu untuk membuka ruang bagi sosok yang baru. Perkara membuka sedikit ruang ditengah hati yang kosong selepas kisah kelam masa lalu bukan hanya perkara kau masih terbelunggu dengan kenangannya serta dirinya tetapi juga perkara kau menciptakan kenyaman hanya untukmu semata. Kenyamanan itu terlalu lama kau rasakan sehingga tanpa kau sadari kau gembokan hatimu dengan sosok yang lain karena rasa trauma pernah disakiti. Jika, kau tidak merasa demikian berarti selamat kau benar-benar sosok yang hebat. Berdedikasi atas dirimu, bertanggung jawab atas hatimu, dan berguna untuk cintamu. Tapi, ini tidak terjadi padamu. Sayang !


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Perasaan-Bagian 1

            Sejatinya manusia, kita hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Sejatinya manusia… Saya juga tidak terbiasa dengan yang namanya kehilangan Kehilangan sosok paling berharga dalam hidup saya di waktu berdekatan bukan perkara yang mudah   Sejatinya manusia… Saya terkadang lupa bahwa kami hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Selayaknya manusia… Saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan bukan sebagai alat memohon iba dan memelas kasih tetapi hanya sebagai sebuah jalan untuk tetap kuat menjalani hidup   Selayaknya manusia... Saya berharap semoga tulisan tentang kehilangan ini menjadi penyembuh untuk saya dan juga menjadi peluakan bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan Semoga segala yang terkesan hilang kembali dalam bentuk lain dengan sebaik-baiknya…     Cerita ini akan diisi dengan banyak ketidaksempurnaan, dibuat apa adanya, dan m...

(4) Hujan di awal Desember

Manusia itu banyak jumlahnya , manusia juga unik macamnya . Kita yang bernamakan manusia punya banyak rupa, banyak tingkah, banyak rasa dan banyak yang lainnya. Pantas saja banyak perbedaan yang timbul antar satu kesatuan insan yang ada di semesta ini. Salah satu hal yang lumrah ditemukan dan paling digemari adalah tentang hujan. Untuk persoalan satu inipun manusia pasti punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang membenci hujan, karenanya dia lari bersembunyi dalam ruang sempit dan gelap sebab lumrahnya hujan disert ai dengan petir. Adapula yang semakin terpupuk rindunya ketika bulir-bulir air langit itu menyentuh tanah Bumi, biasanya karena dia terpisah dari sang mpunya hati jauh ber kilo-kilometer, atau lama bertahun sudah tiada sua. Ada juga yang menikmati salah satu mahakarya Tuhan yang konon diatur turunnya oleh sosok yang bernamakan Mikail. Maha karya ini diterima dengan suka cita dan gembira. Sudah banyak bukan berbagai persepsi yang timbul hanya perihal hujan bukan ?...

(6) Bagian 2 – Mulailah

Setelah sah menjadi anak rantau yang harus kamu lakukan adalah memulai segalanya. Iya, tentu saja! Dari mulai sadar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas dirimu di tanah rantau. Juga bertanggungjawab atas nama keluargamu di tanah rantau. Tidak bermaksud menakuti, tapi ini adalah kenyatannya. Menjadi perantau harus memulai segala sesuatu. Mulai mencari tempat tinggal. Mulai menyiapkan makanan sendiri. Mula mencuci baju sendiri. Mulai menyetrika baju sendiri. Mulai mendisiplinkan diri sendiri. Harus mulai mandiri. Jangan malas. Jangan manja. Kamu harus kuat, buktikan kepada keduanya bahwa mereka tidak salah mengirimkan dirimu hingga sejauh ini, untuk masa yang cukup lama. Mulailah mandiri dan disiplin. Kita tidak bisa hidup bergantung terhadap orang lain. Masing-masing dari mereka pun punya kepentingan. Ingat, jangan sampa menyusahkan orang lain. Setelah selesai dengan diri sendiri. Mulailah bangun hubungan dengan orang lain. Jadilah pribadi yang santun dan tidak sombong. In...