Tanggung jawab
mu atas dirimu kemudian menuntunmu untuk menyerahkan rasamu pada sosok yang
baru. Agar kau tidak salah ambil tingkah, tidak akan salah langkah maka kau
haru andalkan rasa dan logika. Sebuah paket langka, jika mau kau selaraskan
atas keduanya bagaimana tidak logika lebih beralaskan realitas dan rasa
beralaskan sesuatu yang abstrak. Akhirnya, untuk menjawab semua tanda tanyamu
semesta menghadirkan sosok yang baru untukmu. Sosok yang tidak biasa kau sapa,
sosok yang tidak kau harapkan dahulunya, sosok yang sebenarnya sejak dahulu
mendukungmu dalam diam dan mendoakanmu dalam penghujung malam. Tuhan hantarkan
dia kepadamu, namun kau acuhkan. Tuhan dekatkan dia padamu tapi kau abaikan.
Tuhan ciptakan rasamu untuk nya dan menciptakan rasanya untukmu tapi awalnya
kau menolak. Kau seakan lari. Klise bayang masa lalu terkadang masih terbersit.
Menyedihkan, manusia memang kadang sejahat itu, tidak tahukah bahwa pemilik
angkasa raya memberikan apa yang kau butuhkan bukan yang kau inginkan. Tidak
pahamkan jika Dia mengetahui apa-apa yang tidak kau ketahui. Tidak mafhumkah
dengan untaian bahwa apa-apa yang selalu kau anggap baik belum tentu baik
bagimu, dan apa-apa yang kau anggap tidak baik adalah baik bagimu ?
Manusia kadang sesombong itu,
mencoba lari dari takdir yang telah semesta persiapkan. Takdir sebaik-baiknya
takdir. Kenapa harus melawan jika pada akhirnya kau akan bertemu dengan hal itu
jua. Tanpa diduga, dia yang dahulu lari kemudian berbalik mendekati. Dia yang
dulu skeptis tiba-tiba menjadi peduli. Dia yang tahu masa bodo tiba-tiba
menjadi sangat manis. Sudahkah kau terima karma yang kau ciptakan sendiri
bukan? Sampai pada akhirnya, sosok tersebut berhasil meraihmu, meraih hatimu,
menutup kenanganmu, dengan sangat sempurna. Dia adalah sosok yang penuh dengan
kesabaran mafhum dengan keikhlasan dan sudah biasa diacuhkan. Dia kemudian
menarikmu mendekatinya, jangan ragu, jangan buru-buru. Bukankah pelan-pelan
juga syahdu untuk menjalin kisah kasih yang suci ?
Sosok yang baru kemudian
memberikan lembaran baru mengajarkanmu bagaiman mencintai dan dicintai dengan
cintaNya. Bagaima tidak? Dia mengajarkanmu bahwa ketika sayang hendaknya
mengungkapkan bukan padamu tapi pada orantuamu. Dia yang datang perlahan namun
pasti punya persiapan tinggi akhirnya kau tidak bisa berkutik dan berlari
pergi. Kau berhenti. Tepat ditengah hatinya yang suci. Dan, perlahan kau
benar-benar mencintainya. Tulus!
Dia yang
mencintaimu dalam doa, merindukanmu dalam doa, menemanimu dalam doa merangkulmu
dalam doa kemudian menjadi pengobat dan pemenang atas hatimu atas rasa cintamu.
Maka, jangan dulu berharap penuh jika dia belum datang pada ayahmu mengutarakan
rasa cintanya padamu. Jangan bangga, jika dia hanya menjadi sosok yang memanjakanmu
disetiap postingan Instagramnya
dengan hiasan caption-caption mesra kutipan kata orang. Sudah tahukah kau kapan
dia menghadap ayahmu?
Ingat baik-baik, ini bukan soal
menggurui atau menasehati ini soal berbagi rasa yang pernah dirasa. Jangan,
jangan mencintai terlalu dalam. Jangan mencintai terlalu lebih. Jangan juga
mencintai terlalu kurang. Jangan berharap terlalu lebih. Jangan berencana
terlalu jauh. Karena semua yang terlalu tidak
disukai olehnya, oleh sang pemilik semesta.
Komentar
Posting Komentar