Langsung ke konten utama

(3) Menemukanmu



Tanggung jawab mu atas dirimu kemudian menuntunmu untuk menyerahkan rasamu pada sosok yang baru. Agar kau tidak salah ambil tingkah, tidak akan salah langkah maka kau haru andalkan rasa dan logika. Sebuah paket langka, jika mau kau selaraskan atas keduanya bagaimana tidak logika lebih beralaskan realitas dan rasa beralaskan sesuatu yang abstrak. Akhirnya, untuk menjawab semua tanda tanyamu semesta menghadirkan sosok yang baru untukmu. Sosok yang tidak biasa kau sapa, sosok yang tidak kau harapkan dahulunya, sosok yang sebenarnya sejak dahulu mendukungmu dalam diam dan mendoakanmu dalam penghujung malam. Tuhan hantarkan dia kepadamu, namun kau acuhkan. Tuhan dekatkan dia padamu tapi kau abaikan. Tuhan ciptakan rasamu untuk nya dan menciptakan rasanya untukmu tapi awalnya kau menolak. Kau seakan lari. Klise bayang masa lalu terkadang masih terbersit. Menyedihkan, manusia memang kadang sejahat itu, tidak tahukah bahwa pemilik angkasa raya memberikan apa yang kau butuhkan bukan yang kau inginkan. Tidak pahamkan jika Dia mengetahui apa-apa yang tidak kau ketahui. Tidak mafhumkah dengan untaian bahwa apa-apa yang selalu kau anggap baik belum tentu baik bagimu, dan apa-apa yang kau anggap tidak baik adalah baik bagimu ?
Manusia kadang sesombong itu, mencoba lari dari takdir yang telah semesta persiapkan. Takdir sebaik-baiknya takdir. Kenapa harus melawan jika pada akhirnya kau akan bertemu dengan hal itu jua. Tanpa diduga, dia yang dahulu lari kemudian berbalik mendekati. Dia yang dulu skeptis tiba-tiba menjadi peduli. Dia yang tahu masa bodo tiba-tiba menjadi sangat manis. Sudahkah kau terima karma yang kau ciptakan sendiri bukan? Sampai pada akhirnya, sosok tersebut berhasil meraihmu, meraih hatimu, menutup kenanganmu, dengan sangat sempurna. Dia adalah sosok yang penuh dengan kesabaran mafhum dengan keikhlasan dan sudah biasa diacuhkan. Dia kemudian menarikmu mendekatinya, jangan ragu, jangan buru-buru. Bukankah pelan-pelan juga syahdu untuk menjalin kisah kasih yang suci ?
Sosok yang baru kemudian memberikan lembaran baru mengajarkanmu bagaiman mencintai dan dicintai dengan cintaNya. Bagaima tidak? Dia mengajarkanmu bahwa ketika sayang hendaknya mengungkapkan bukan padamu tapi pada orantuamu. Dia yang datang perlahan namun pasti punya persiapan tinggi akhirnya kau tidak bisa berkutik dan berlari pergi. Kau berhenti. Tepat ditengah hatinya yang suci. Dan, perlahan kau benar-benar mencintainya. Tulus!
Dia yang mencintaimu dalam doa, merindukanmu dalam doa, menemanimu dalam doa merangkulmu dalam doa kemudian menjadi pengobat dan pemenang atas hatimu atas rasa cintamu. Maka, jangan dulu berharap penuh jika dia belum datang pada ayahmu mengutarakan rasa cintanya padamu. Jangan bangga, jika dia hanya menjadi sosok yang memanjakanmu disetiap postingan Instagramnya dengan hiasan caption-caption mesra kutipan kata orang. Sudah tahukah kau kapan dia menghadap ayahmu?
Ingat baik-baik, ini bukan soal menggurui atau menasehati ini soal berbagi rasa yang pernah dirasa. Jangan, jangan mencintai terlalu dalam. Jangan mencintai terlalu lebih. Jangan juga mencintai terlalu kurang. Jangan berharap terlalu lebih. Jangan berencana terlalu jauh. Karena semua yang terlalu tidak disukai olehnya, oleh sang pemilik semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Perasaan-Bagian 1

            Sejatinya manusia, kita hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Sejatinya manusia… Saya juga tidak terbiasa dengan yang namanya kehilangan Kehilangan sosok paling berharga dalam hidup saya di waktu berdekatan bukan perkara yang mudah   Sejatinya manusia… Saya terkadang lupa bahwa kami hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Selayaknya manusia… Saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan bukan sebagai alat memohon iba dan memelas kasih tetapi hanya sebagai sebuah jalan untuk tetap kuat menjalani hidup   Selayaknya manusia... Saya berharap semoga tulisan tentang kehilangan ini menjadi penyembuh untuk saya dan juga menjadi peluakan bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan Semoga segala yang terkesan hilang kembali dalam bentuk lain dengan sebaik-baiknya…     Cerita ini akan diisi dengan banyak ketidaksempurnaan, dibuat apa adanya, dan m...

(4) Hujan di awal Desember

Manusia itu banyak jumlahnya , manusia juga unik macamnya . Kita yang bernamakan manusia punya banyak rupa, banyak tingkah, banyak rasa dan banyak yang lainnya. Pantas saja banyak perbedaan yang timbul antar satu kesatuan insan yang ada di semesta ini. Salah satu hal yang lumrah ditemukan dan paling digemari adalah tentang hujan. Untuk persoalan satu inipun manusia pasti punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang membenci hujan, karenanya dia lari bersembunyi dalam ruang sempit dan gelap sebab lumrahnya hujan disert ai dengan petir. Adapula yang semakin terpupuk rindunya ketika bulir-bulir air langit itu menyentuh tanah Bumi, biasanya karena dia terpisah dari sang mpunya hati jauh ber kilo-kilometer, atau lama bertahun sudah tiada sua. Ada juga yang menikmati salah satu mahakarya Tuhan yang konon diatur turunnya oleh sosok yang bernamakan Mikail. Maha karya ini diterima dengan suka cita dan gembira. Sudah banyak bukan berbagai persepsi yang timbul hanya perihal hujan bukan ?...

(6) Bagian 2 – Mulailah

Setelah sah menjadi anak rantau yang harus kamu lakukan adalah memulai segalanya. Iya, tentu saja! Dari mulai sadar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas dirimu di tanah rantau. Juga bertanggungjawab atas nama keluargamu di tanah rantau. Tidak bermaksud menakuti, tapi ini adalah kenyatannya. Menjadi perantau harus memulai segala sesuatu. Mulai mencari tempat tinggal. Mulai menyiapkan makanan sendiri. Mula mencuci baju sendiri. Mulai menyetrika baju sendiri. Mulai mendisiplinkan diri sendiri. Harus mulai mandiri. Jangan malas. Jangan manja. Kamu harus kuat, buktikan kepada keduanya bahwa mereka tidak salah mengirimkan dirimu hingga sejauh ini, untuk masa yang cukup lama. Mulailah mandiri dan disiplin. Kita tidak bisa hidup bergantung terhadap orang lain. Masing-masing dari mereka pun punya kepentingan. Ingat, jangan sampa menyusahkan orang lain. Setelah selesai dengan diri sendiri. Mulailah bangun hubungan dengan orang lain. Jadilah pribadi yang santun dan tidak sombong. In...