Langit malam ini sepi sekali
Bintang-bintang seperti enggan memamerkan
kecantikannya
Bulan pun seakan malu-malu menerangi bumi
Sedang aku yang saban hari tidak pernah mengamati dan
penuh acuh malah mencari mereka ketika sembunyi
Tapi, kalau dipikir lagi sesuatu itu akan dicari saat
sudah benar-benar pergi bukan ?
Kejadian ini dianggap biasa tetapi selalu menyakitkan,
Tentu!
Ku harap kamu atau kalian tidak pernah menyia-nyiakan
apapun yang sedang dalam genggaman ya.
Ingat, kamu punya cahaya sendiri untuk gelapnya
hidupmu.
Sedang, orang lain hanya menjadi penikmat apa yang
kamu punya.
Besar dari pada
mereka pun tidak paham apa-apa dengan semua yang tengah kau genggam.
Jadi, genggam erat saja. Jangan juga dipaksakan.
Jika yang digenggam ingin melepaskan genggaman. Kamu
berilah ruang. Entah untuk istirahat atau untuk pergi meninggalkan.
Walau perpisahan itu awalnya menyakitkan tetapi selalu
saja adanya mekaran bunga yang terlihat pasca belasan, puluhan, ratusan bahkan
ribuan purnama berlalu.
Semua itu hanya perkara waktu.
Tetapi tidak juga. Semua itu perkara dirimu juga.
Dirimu yang siap merelakan atau hanya terus
memaksakan.
Jika waktu yang terbuang tiada mampu membuatmu
melepaskan dengan ikhlas maka hingga tiada lagi purnama pun kau akan tetap
menggenggam puing-puing rumah yang kamu igaukan sendiri.
Aku hanya takut kalau-kalau kamu hanya hidup dengan
igauanmu, dibesarkan oleh egomu, lalu hancur termakan harapan-harapan yang kau
bangun sendiri!
Hingga pada titik akhir, kau hancur bersama seluruh
asa. Tanpa tahu kemana arah jalan pulang.
Maka, Jika tidak mampu mencipta nyata atas igauan yang
tidak malu kau serentakan. Setidaknya kau mampu nyata dalam rela hidup dengan
baik-baik saja.
Aku paham itu sulit! Pasti!
Tetapi, yang jauh lebih menyeramkan adalah kau hidup
dalam igauan tiada sudah yang tidak mungkin dinyatakan pada akhirnya.
Ananta,
12 September 2019
Komentar
Posting Komentar