Langsung ke konten utama

(5) Bagian 1- Pergilah



Terlahir dalam sebuah lingkungan yang penuh kenyamanan adalah impian bagi setiap orang. Aku, kamu dan kita tentu memiliki keinginan untuk hidup dalam suasana keluarga yang harmonis. Keharmonisan keluarga selalu memberikan rasa nyaman, rasa aman dan tentu rasa memiliki yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata. Walaupun rasa cinta dan sayang yang tumbuh subur diantara anggota keluarga, pertengkaran pasti selalu ada. Perselisihan tidak mungkin dapat dihindari. Bukankah resiko dalam berkehidupan sosial adalah seperti itu bukan?

Jadi, tidak apa-apa kalau dalam keluarga tidak jarang “ramai”. Itu artinya masing-masing anggotanya punya rasa peduli. Peduli merupakan bukti cinta yang paling tulus. Ketulusan cinta terhadap keluarga tidak jarang semakin kuat saat kita hidup berjarak. Jarak yang muncul antara kita dan mereka hadir bisa karena beberapa alasan. Apapun alasan yang membuat kita berjarak dengan keluarga, semoga kita tidak benar-benar berjarak ya.

Sebagai seseorang yang tengah berjarak beribu-ribu kilometer dengan keluarga membuatku seringkali merindu. Rindu dibangunkan pagi oleh mama. Rindu diantar ke sekolah dengan motor bebeknya bapak. Rindu menjaili adik kecil hingga menangis. Rindu bertengkar dengan kakak hingga tercipta perang dingin antara kita. Merindukan hal-hal tentang keluarga semuanya akan terasa manis. Terlepas dari hal apa yang terjadi. Bahkan berebut potongan ikan asin dengan adik juga akan menjadi hal yang indah saat kalian telah berjarak. Jarak harusnya menjadi magnet perekat bukan sebagai alasan untuk menjauh.

Kita yang tengah hidup berjarak dengan anggota keluarga biasanya lekat dengan istilah anak kosan. Gambaran umum anak kosan lekat pula dengan sebungkus mi instant di akhir bulan. Bayang-bayang yang diciptakan tentang anak kosan serasa apes sekali. Sehingga, jika ada calon perantau newbie yang ingin memulai perantauan pasti akan takut dan gelisah. Ketakutan dan kegelisaan sebelum memulai masa perantauan adalah hal yang lumrah. Tapi, tidak boleh lebay ya dalam menyelami ketakutan dan kegelisahan itu. Kamu harus tetap berani melawan keduanya. Beranilah merantau dan semua dapat menjadi indah. Jika kamu mau berusaha.

Maka, untuk jiwa-jiwa muda yang ingin melakukan perantauan. Maka, lakukanlah. Jangan takut berjarak, yang harus kamu takutkan adalah tidak mampu kembali dengan baik-baik saja setelah merantau. Kamu harus tahu, ketika kedua orang tua memberikan izin pergi untuk dirimu, artinya kamu telah benar-benar dipercaya. Jagalah kepercayaan mereka dengan segenap-genapnya penjagaan. Lindungi nama baiknya, lindungi diri kalian. Yakin dan percaya bahwa perjalanan seburuk apapun tidak berarti buruk.

Pergilah para perantau. Bergegaslah. Bergegaslah pergi untuk bergegas kembali sebagai versi terbaik perantau atas dirimu sendiri.

Salam sayang,

Dhila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Perasaan-Bagian 1

            Sejatinya manusia, kita hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Sejatinya manusia… Saya juga tidak terbiasa dengan yang namanya kehilangan Kehilangan sosok paling berharga dalam hidup saya di waktu berdekatan bukan perkara yang mudah   Sejatinya manusia… Saya terkadang lupa bahwa kami hanya saling dititipi bukan saling memiliki   Selayaknya manusia… Saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan bukan sebagai alat memohon iba dan memelas kasih tetapi hanya sebagai sebuah jalan untuk tetap kuat menjalani hidup   Selayaknya manusia... Saya berharap semoga tulisan tentang kehilangan ini menjadi penyembuh untuk saya dan juga menjadi peluakan bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan Semoga segala yang terkesan hilang kembali dalam bentuk lain dengan sebaik-baiknya…     Cerita ini akan diisi dengan banyak ketidaksempurnaan, dibuat apa adanya, dan m...

(4) Hujan di awal Desember

Manusia itu banyak jumlahnya , manusia juga unik macamnya . Kita yang bernamakan manusia punya banyak rupa, banyak tingkah, banyak rasa dan banyak yang lainnya. Pantas saja banyak perbedaan yang timbul antar satu kesatuan insan yang ada di semesta ini. Salah satu hal yang lumrah ditemukan dan paling digemari adalah tentang hujan. Untuk persoalan satu inipun manusia pasti punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang membenci hujan, karenanya dia lari bersembunyi dalam ruang sempit dan gelap sebab lumrahnya hujan disert ai dengan petir. Adapula yang semakin terpupuk rindunya ketika bulir-bulir air langit itu menyentuh tanah Bumi, biasanya karena dia terpisah dari sang mpunya hati jauh ber kilo-kilometer, atau lama bertahun sudah tiada sua. Ada juga yang menikmati salah satu mahakarya Tuhan yang konon diatur turunnya oleh sosok yang bernamakan Mikail. Maha karya ini diterima dengan suka cita dan gembira. Sudah banyak bukan berbagai persepsi yang timbul hanya perihal hujan bukan ?...

(6) Bagian 2 – Mulailah

Setelah sah menjadi anak rantau yang harus kamu lakukan adalah memulai segalanya. Iya, tentu saja! Dari mulai sadar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas dirimu di tanah rantau. Juga bertanggungjawab atas nama keluargamu di tanah rantau. Tidak bermaksud menakuti, tapi ini adalah kenyatannya. Menjadi perantau harus memulai segala sesuatu. Mulai mencari tempat tinggal. Mulai menyiapkan makanan sendiri. Mula mencuci baju sendiri. Mulai menyetrika baju sendiri. Mulai mendisiplinkan diri sendiri. Harus mulai mandiri. Jangan malas. Jangan manja. Kamu harus kuat, buktikan kepada keduanya bahwa mereka tidak salah mengirimkan dirimu hingga sejauh ini, untuk masa yang cukup lama. Mulailah mandiri dan disiplin. Kita tidak bisa hidup bergantung terhadap orang lain. Masing-masing dari mereka pun punya kepentingan. Ingat, jangan sampa menyusahkan orang lain. Setelah selesai dengan diri sendiri. Mulailah bangun hubungan dengan orang lain. Jadilah pribadi yang santun dan tidak sombong. In...