Terlahir
dalam sebuah lingkungan yang penuh kenyamanan adalah impian bagi setiap orang.
Aku, kamu dan kita tentu memiliki keinginan untuk hidup dalam suasana keluarga
yang harmonis. Keharmonisan keluarga selalu memberikan rasa nyaman, rasa aman
dan tentu rasa memiliki yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata. Walaupun
rasa cinta dan sayang yang tumbuh subur diantara anggota keluarga, pertengkaran
pasti selalu ada. Perselisihan tidak mungkin dapat dihindari. Bukankah resiko
dalam berkehidupan sosial adalah seperti itu bukan?
Jadi,
tidak apa-apa kalau dalam keluarga tidak jarang “ramai”. Itu artinya
masing-masing anggotanya punya rasa peduli. Peduli merupakan bukti cinta yang
paling tulus. Ketulusan cinta terhadap keluarga tidak jarang semakin kuat saat
kita hidup berjarak. Jarak yang muncul antara kita dan mereka hadir bisa karena
beberapa alasan. Apapun alasan yang membuat kita berjarak dengan keluarga, semoga
kita tidak benar-benar berjarak ya.
Sebagai
seseorang yang tengah berjarak beribu-ribu kilometer dengan keluarga membuatku
seringkali merindu. Rindu dibangunkan pagi oleh mama. Rindu diantar ke sekolah
dengan motor bebeknya bapak. Rindu menjaili adik kecil hingga menangis. Rindu
bertengkar dengan kakak hingga tercipta perang dingin antara kita. Merindukan
hal-hal tentang keluarga semuanya akan terasa manis. Terlepas dari hal apa yang
terjadi. Bahkan berebut potongan ikan asin dengan adik juga akan menjadi hal
yang indah saat kalian telah berjarak. Jarak harusnya menjadi magnet perekat
bukan sebagai alasan untuk menjauh.
Kita
yang tengah hidup berjarak dengan anggota keluarga biasanya lekat dengan
istilah anak kosan. Gambaran umum anak kosan lekat pula dengan sebungkus mi
instant di akhir bulan. Bayang-bayang yang diciptakan tentang anak kosan serasa
apes sekali. Sehingga, jika ada calon
perantau newbie yang ingin memulai
perantauan pasti akan takut dan gelisah. Ketakutan dan kegelisaan sebelum
memulai masa perantauan adalah hal yang lumrah. Tapi, tidak boleh lebay ya dalam menyelami ketakutan dan
kegelisahan itu. Kamu harus tetap berani melawan keduanya. Beranilah merantau
dan semua dapat menjadi indah. Jika kamu mau berusaha.
Maka,
untuk jiwa-jiwa muda yang ingin melakukan perantauan. Maka, lakukanlah. Jangan
takut berjarak, yang harus kamu takutkan adalah tidak mampu kembali dengan
baik-baik saja setelah merantau. Kamu harus tahu, ketika kedua orang tua
memberikan izin pergi untuk dirimu, artinya kamu telah benar-benar dipercaya.
Jagalah kepercayaan mereka dengan segenap-genapnya penjagaan. Lindungi nama
baiknya, lindungi diri kalian. Yakin dan percaya bahwa perjalanan seburuk
apapun tidak berarti buruk.
Pergilah
para perantau. Bergegaslah. Bergegaslah pergi untuk bergegas kembali sebagai
versi terbaik perantau atas dirimu sendiri.
Dhila.
Komentar
Posting Komentar